Jumat, 18 Mei 2012

Apakah Bibirmu Masih Perawan bagian 2

Adegan Satu
Pacaran Itu Wajib !?
PERNAH JATUH CINTA?
Sudah bawaan sejak lahir jika memasuki masa baligh akan timbul rasa suka kepada lawan jenis. Bagi cowok, baligh biasanya dimulai umur 13 tahun sedangkan cewek 12 tahunan. Laki-laki dimulai dengan ‘mimpi basah’, yaitu bermimpi berhubungan sex atau merasakan suatu kenikmatan sex sampai mengeluarkan sperma. Sementara wanita disebut baligh jika sudah mengalami menstruasi. Tentang menstruasi nggak perlu dijelasin ya? Saya yakin loe semua dah pada faham. Kalau nggak faham, besok pagi tanya saja ke ibu pengajar sejarah! Kok guru sejarah? Iya lah, beliau kan juga punya sejarah menstruasi? Hi.. Hi..
Tapi tiap orang berbeda-beda kapan mulai balighnya. Apalagi di jaman serba instan ini, dimana informasi dan ‘pemandangan’ yang bisa meningkatkan libido birahi sangat mudah ditemui, selain tentunya status gizi yang semakin membaik, menjadi balighpun juga mengalami akselerasi. Maka kamu nggak perlu heran kalau ada cewek usia sepuluh tahun sudah pada dapet.
Seneng kepada lawan jenis adalah manusiawi. Bahkan jika segede ini kamu belum pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta, demen ama seseorang dan tenang-tenang saja kalau ada cewek or cowok lewat, wah gawat, bencana besar sodara, pasti heboh! Mumpung belum terlambat, saya sarankan kamu segera periksa ke dokter spesialis paru-paru dan THT (eh... nggak nyambung lah).
Artinya jika kamu mulai merasa resah, gelisah, rindu dan sueneeeng banget pada seseorang, jangan takut, kamu sedang menjalani fitrahmu kok! Nggak usah heran, bingung, stress, apalagi sampai maagmu kambuh gara-gara melihat perkembanganmu yang terjadi secara tiba-tiba dan di luar rencana itu. Ingat waktu kelas 3 SD? Saat itu kamu malu-malu jika ketahuan lagi ngobrol dengan teman lawan jenismu. Kalau ada yang berani menjodoh-jodohkanmu, pasti akan kamu kejar walau sampau ke ujung dunia. But now, jangankan marah ketika dipasang-pasangkan, lha wong nggak ada yang masang-masangin saja berusaha mati-matian cari pasangan sendiri kok!
Lalu gimana kok bisa tertarik? Gene, pada usia 12 tahunan, hormon-hormon seksual kamu mulai diproduksi. Pada cowok mulai muncul hormon testosteron. Hormon ini berperan untuk mengatur organ-organ reproduksi. Adanya hormon ini menjadikanmu cowooook banget. Punya kumis bak Zorro, suara berat dan besar kayak traktor, tubuh kekar mirip Hulk, dan juga ciri pejantan sejati lainnya. Sementara pra cewek memproduksi hormon estrogen dan progesterone. Hormon-hormon ini yang membentuk kamu menjadi seorang cewek asli. Dada yang mulai membesar, suara yang lembut kayak mesin AC, kulit yang halus walau tanpa di ampelas, atau badan yang mulai seksi, dan seterusnya.
Nah, semua itu yang membuat ketertarikan antar lawan jenis. Karena memang antara cowok dan cewek berbeda fisik dan sifat yang masing-masing saling membutuhkan satu sama lain. Ada chemistry gitu loh. Jadi wajar jika kamu saling tertarik dan jatuh cinta. Betul nggak?
Allah juga sangat faham dengan kebutuhan akan cinta pada diri manusia! Di Al Quran Allah berfirman: “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali Imran: 14)
Nah, melihat nikmat Allah yang demikian dahsyat, sangat wajarlah kalau kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Coba bayangin jika Allah tidak membekali kita rasa cinta kepada lawan jenis. Hiii... trus cinta ini mau tersalurkan dengan apa eh... dengan siapa? Dengan sesama jenis? Oh.. Tidak... !!!
LEZATNYA JATUH CINTA
Kalau lagi jatuh cinta rasanya gimana sih? Rasanya ehm... fly to sky. Romantis, mengharu biru, suka duka dirasakan bersama, kadang-kadang susah tidur (gimana mo tidur, lha wong pantatnya lagi jerawatan alias kena serangan jurus seribu bisul!). Pokoknya nuuikmat Bos! Saking lezatnya cinta, hampir semua lagu dari zaman kuda gigit besi sampai zaman kuda gigit burger sekarang ini selalu bertemakan cinta. Lihat lirik lagu Koes Plus, Panbers, Dewa 19, Ada Band, D’Masiv, SamSonS, Ungu, Cintaaa banget! Itu baru grup band negeri sendiri, belum yang dari negeri kulon sana. Dan ternyata tidak hanya lagu saja yang mengambil tema cinta, sinetron dan film kita juga habis-habisan mengusung tema cinta. Why? Ya itu tadi, karena cinta memang sangat lezat. Sementara setiap kita punya rasa cinta dan mencintai. Sehingga masyarakat kita khususnya anak-anak muda, akan mengkonsumsi habis semua yang berbau cinta. Termasuk lagu dan sinetron tadi.
Kamu sendiri pernah jatuh cinta kan? Pasti setiap kita pernah jatuh cinta. Begitu lihat makhluk cantik or cewek cakep spontan bergumam, “Duh, siapa tuh? Aku kayaknya mencintainya, deh!”
Mudah sekalee bilang cinta! Dikit-dikit jatuh cinta, dikit-dikit jatuh cinta!
Tapi coba kalau misalkan pertanyaanya begini: “Siapa yang belum pernah dijatuhcintai?”
Kira-kira gimana jawabmu? Hayoo... jujur, belum pernah dijatuhcintai, kan? Nggak ada yang bilang I love you padamu, kan? Nggak ada yang ngajak kamu jadian, kan? Nggak ada yang PeDeKaTe, kan? Keciaan deh lu! Terang aja nggak ada, sebab kamu kan jelek, nggak seksi-seksi amat, nggak pantaslah dijatuhcintai! Ha... ha... pasti pada marah tuh!
But anyway, kebutuhan akan mencintai dan dicintai sebenarnya sudah lengket dengan manusia. Meski dia memaka jilbab super besar, meski dia berjenggot panjang or sebengis Fir’aun sekalipun, urusan mencintai dan dicintai tetap saja ada pada mereka. Singkat cerita, jika sedang jatuh cinta nggak usah terlalu resah dan gelisah! Itu nikmat, fitrah, anugerah yang besar dari Allah.
Now, mau tahu ciri-ciri teman-teman kamu yang sedang jatuh cinta? Mau ngelihat jerawat wajah-wajah yang didera asmara? Lihat jerawat teman?? Larii...!!! Eiit... tunggu dulu, ngomong-ngomong sudah pada gosok gigi belum? Baru makan sambal trasi ya? Kok tahu? Tuh ada cabe masih nempel di gigimu, merah bangeeeeet! (Jorok!)
Rasa Rindu
Siapapun yang sedang jatuh cinta pasti mengalami rasa rindu berat. Romeo-Juliet, Rama-Sinta, kakek-nenek, mama-papa, fulan-fulanah atau siapapun yang masih ngaku manusia normal, pasti rindu kalau jatuh cinta. Bohong besar kalo ada teman kamu yang ngaku jatuh cinta tapi ketika ditanya, “Kamu rindu nggak sama dia?” Trus dia bilang, “Nggak tuh, aku nggak kangen!”
Kalau dia memang nggak kangen, hampir bisa dipastikan kalau dia memang nggak begitu cinta. Sebab cinta itu berbanding lurus dengan rasa rindu. Kalau cintanya Cuma bernilai empat maka rindunya juga cuma bernilai empat. Kalau rindunya bernilai delapan maka cintanya juga bernilai delapan. Bawaannya pingiiin ketemu aja! Kamu pasti pernah merasakannya kan?
Untuk mengobati rindu (Emang rindu lagi sakit ya? Kamu sudah menjenguknya?) banyak yang suka mlototin foto do’i yang tersimpan kucel di dalam dompet. Dengan senyum sendiri sambil memegangi foto itu kamu berkata, “Say, walau ke ujung dunia pasti akan kunanti, meski ke tujuh samudra pasti ku kan menunggu. Karena ku yakin kau hanya untukku.” (Sorry... nyontek syairnya Chrisye). Atau kamu masang foto do’i besar-besar di kamar. Saat mau tidur malam kamu kecup fotonya pas di keningnya sambil berkata, “I love you full, good morning... HA... HA... HA...“ (gaya almarhum mbah Surip), Gokil nggak? Ya jelas gokil, lha wong malam hari ngucapinnya kok good morning, harusnya kan good luck! Wah, ini lebih gokil lagi!
Satu story masuk ke Kafe Curhat KRC. Cewek ini mengaku mencintai kakak kelasnya. Biasalah waktu orientasi banyak kakak kelas yang TP-TP (titip piutang, tebar pesona, tukang pipis). Nah, nih cewek kena tebar pesonanya sang kakak kelas. Cuman sang kakak kelas tak tahu kalau dia sedang di-fall in love-i. Siang malam cewek itu selalu kebayang sang cowok itu. Sholatpun nggak bisa khusyu’. (Alaaah alasan, padahal sebelumnya juga nggak pernah bisa khusyu’!)
“Apa yang harus aku lakukan, Mas? Apa ngomong aja terus terang dengan kemungkinan diterima atau ditolak? Atau aku pendam saja rasa ini sampai dia tahu sendiri? Atau aku harus bagaimana? Aku mencintainya dan aku sangat merindukannya!”
“Jika kuangennya lagi kenceng-kencengnya, apa yang kamu lakukan?” tanya saya. Dia bilang kalau kamar dan beberapa bukunya dipasang foto cowok itu serta menulis namanya di berbagai tempat di kamarnya. MasyaALLAh! Ini ni, namanya cintaa banget. Ngalahin cintanya Rama ke Sinta dalam cerita Ramayana. Rama tuh, walau cintaa banget sama Sinta, nggak pernah bela-belain masang foto Sinta di kamarnya. Apalagi bawa foto Sinta di dompet. Betuuuul?
Yang ini lain lagi! Dua insan berlainan jenis sudah jadian satu tahunan. Karena keduanya berlainan kota yang jaraknya jauh, mereka hanya bisa bertemu dua bulan sekali. Di awal-awal mereka jadian, rasa rindu begitu menghebat . Tapi di bulan-bulan berikutnya, rasa rindu yang biasanya terobati dengan perjumpaan, entah siapa yang memulai, aktifitas ngapelnya diwarnai dengan adegan saling raba, saling cium dan sang cewek pernah mengaku kalau sering petting.
Atau cerita seorang cowok yang mengaku pacaran jarak jauh dengan ceweknya hanya melalui handphone. Tetapi isi SMSnya semuanya berbau sex. Akhirnya, menurut pengakuanya, ia selalu onani setelah ber-SMS ria dengan pacarnya.
Beginikah rindu? Jelas bukan! Tapi paling tidak mereka sudah membuktikan kalau saling cinta pasti ada keinginan untuk bertemu sesering mungkin. Walau, sorry nih, caranya tidak benar. Tapi itulah cinta. Itulah rasa rindu. Seperti dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan.
Rela Berkorban
Orang kalau sudah jatuh cinta dua pertiga akalnya hilang. Dia rela berkorban dan apa pun dilakukan asal bisa mendapatkan buah hati atau pujaannya. Demikian kira-kira kata pujangga cinta.
Dia rela mengorbankan dirinya demi sebuah nama, cinta. Ya, cinta. Nggak masuk akal? Tapi itulah kenyataanya, orang yang dilanda cinta dua pertiga akalnya hilang.
Ini kuis bagi yang lagi jatuh cinta, harus dijawab! Umpama orang yang kamu cintai jauuuh di pelosok. Jalan belum diaspal, listrik belum kepasang, melewati tujuh belas kuburan (kuburan semut kali?), hujan lagi! Datang nggak?
Saya yakin dengan semangat juang 45, semangat juang 66 dan semangat juang reformasi kamu akan mendatanginya. Kamu rela basah kuyub, rela ketemu Suster Ngesot sampai Pocong ngesot, atau Mak Lampir yang lagi ngamen (Nggak takuut...! Tapi teriaknya sambil lari kenceng) or sampai motor kamu habis bensin berliter-liter, semua itu tak jadi masalah. Yang penting tujuan tercapai, nyampai di rumah doski, TITIK! Pengorbanan seperti itu sudah menyatu dengan rasa cinta.
Contoh lain? Pernah dengar orang yang suka mengoleksi uang kuno? Demi kecintaanya pada uang kuni, apapun halangannya akan dihadapi. Misal uang kuno itu ada di negeri para Nabi, Palestina, yang sekarang sedang bergolak. Kolektor ini akan tetap berusaha mendatanginya juga untuk bisa mendapatkan uang kuno itu, apapun resikonya. Nggak peduli harus keluar uang banyak, nggak peduli harus bertaruh nyawa, yang penting dapat uang kunonya.
Kamu herman, eh..heran?
“Weleh.. weleh.. kok ngoyo banget toh. Apa nggak eman waktu dan duitnya untuk hal seperti itu? Ah.. Ngapain bela-belain demi uang yang nggak ada harganya? Daripada untuk sekeping uang kuno, mending untuk beli baju and main Playstation! Gimana sih mikirnya? Tapi bagi yang sudah cinta luar biasa pada uang kuno, semua itu tak jadi masalah. Resiko apapun tampak kecil.
Nggak usah jauh-jauhlah. Kamu sendiri kalo lagi jatuh cinta sama anak baru tetangga kelas, apapun akan kamu lakukan meski halan rintang menghadang. Ngaku! Pasti kamu akan berteriak keras rawe-rawe rantas Malang – Malang... Surabaya – Surabaya... Solo – Solo..., hayo mumpung masih kosong kursinya. Persis teriakan kondektur bis pas lewat di depan rumahmu! Itulah cinta. Pengorbanan sebesar apapun tetap dilakukan asal mendapatkan apa yang dicintainya.

Terasa Indah
Ini lanjutan dari dua hal di atas. Kalau sudah cinta maka akan muncul rindu, trus dia rela berkorban. Meski pengorbanannya besar, baginya akan terasa indah. Masih ingat contoh di atas? Walau harus melewati tujuh belas kuburan, rasanya seperti tamasya ke Dufan Ancol. Jalan yang belum beraspal dianggap saja sedang Balapan Motor GP dimana seluruh stasiun televisi dunia me-relay aksimu. Tapi begitu nyampek di rumah sang do’i semua pengorbanan itu seolah tergantikan. Segala capek hilang. Yang ada hanya rasa indah yang luar biasa. Bahkan ada pepatah mengatakan kalau cinta sudah melekat tahi kucing terasa coklat. Haa.. ? tahi kucing rasa coklat? Lu kehabisan obat ya, masak tahi kucing rasa coklat? Emang pernah makan tahi kucing? Hiii... sorii berat! Yang bener itu bukan terasa coklat tapi tahi kucing warnanya coklat!
Kata teman-teman yang biasa pacaran, kalau pas mojok di sudut kebun saat pacaran, rasanya indaaaaah.. banget. Meski gelap, banyak nyamuk Aides Aegypti-nya, muncul penampakan (penampakan ortu yang mengintai kita), serta dalam keadaan terancam ditangkap hansip sekalipun, semuanya tetap terasa indah. Saat sang cewek mencubit mesra sang cowok, sakiiit! Sang cowok malah merasakan nikmatnya cubitan. Bahkan pingin nambah lagi dan bilang, “Alaah.. beraninya cuman nyubit tangan doang. Kalo berani nyubit bagian lainnya donk? So, orang yang sedang jatuh cinta memang merasakan keindahan dalam pengorbanannya.
Itulah ciri-ciri temanmu yang sedang dimabuk cinta. Paling tidak memenuhi tiga hal di atas: rindu, rela berkorban, dan terasa indah. Kalau kamu sendiri gimana? Sedang jatuh cinta nggak? Sudah punya sasaran tembak?
Kalo gitu, kira-kira harus segera pacaran dan bercinta donk? Eiit.. tuinggu dulu ! Siapa yang menyuruhmu bercinta? Ngawur saja kalau ngomong! (marah neeeh..) Memang benar kamu harus mewujudkan rasa cinta ini kepada teman yang paling kamu sukai, tapi harus diingat bahwa cinta tidak selalu identik dengan pacaran. Cinta itu bisa diwujudkan dengan pernikahan, persahabatan or saling mengasihi karena memang dia perlu dikasihani, seperti anak yatim, anak-anak terlantar dan sebagainya.
Truzz... gimana donk menyalurkan hasrat ketertarikan kepada lawan jenis? Kalau pas suka sama seseorang, apa yang harus aku lakukan? Kalau lagi rindu sama do’i apa yang mesti aku kerjakan?
JIKA JATUH CINTA
Masalahnya kalau kita sekarang benar-benar jatuh cinta kepada teman sekelas, tetangga, anak bapak guru, anak pak lurah, or anak orang lain bagaimana? Tembak langsung apa ditahan saja yang lama-lama bisa jadi jerawat? Or nunggu dia ngungkapin dulu? Gimana hoy? Binguuuung...!
Sebelum ketemu jawabannya, yuuuk... kita telusuri dulu mengapa kita suka pada seseorang. Kira-kira apa yang membuatmu senang pada seseorang? Trus ngapain bayangannya selalu nongol di kelopak mata tanpa pernah kita undang sama sekali?
Ada yang suka pada seseorang karena wajahnya cakep abiiz, ada yang tertarik karena tubuhnya yang seksi dan atletis, ada pula yang suka karena wajahnya keibuan atau ada yang suka karena kepribodianya... eh... kepribadiannya lembut, atau ada yang suka karena bapaknya kaya raya (emang mo nikah dengan bapaknya?), dan sebagainya.
Sebenernya kamu mencintai seseorang karena semua apa yang kamu impikan tentang pasangan idealmu ada pada dirinya. Dan begitu melihatnya, langsung otak kamu bilang, “Lha, ini kan yang selama ini kuimpi-impikan? Ini nih, yang pas buat gue!”
Tapi cinta tidak bisa dilarang atau dipaksakan. Misal ada yang maksa-maksa kamu untuk mencintai seseorang, “Kamu harus mencintainya karena dia itu baik, cakep dan pintar!” Wah, terang aja kita tolak. Memang nggak cinta, bagaimana mau menerimanya? Meski dia cakep, kaya, keren, or berbody seksi, tapi kalau dalam hati ini sukaa banget mau gimana lagi? Yah, dengan terpaksa... mauu donk!
Atau ada yang melarangmu mencintai seseorang, “Kamu nggak boleh mencintainya, titik!” Mungkin kamu nggak bisa nolak karena yang melarang adalah ortu kamu. Tapi karena udah cinta, dalam hati ini cinta itu tetap bersemi indah. Raga boleh berpisah tapi hati kami tetap bersatu. (Ceilaaah... sok puitis, gombal). Meski Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi melarang percintaanmu tapi karena kadung cinta, cinta akan tetap tersenyum indah.
Nah, karena cinta itu urusan hati maka dia nggak mungkin berbohong. Tapi tunggu dulu! Meski cinta nggak mungkin berbohong tapi rasa suka bisa keliru karena dominasi nafsu atau akal yang salah pilih.
Contohnya gene. Kamu mati-matian cinta pada seseorang. Cintamu murni karena kamu memang bener-bener menyukainya. Tapi sebelumnya sudah banyak yang bilang padamu kalau dia itu playboy or playgirl misalnya. Atau orang-orang juga bilang kalau dia pecandu narkoba, bukan anak baik-baik. Tapu semua itu kamu anggap angin lalu. Bahkan kamu bilang sebagai ujian cinta untuk membuktikan ‘keimanan’ cintamu. Cinta yang seperti inilah yang disebut cinta buta. Yaitu cinta yang lebih mengedepankan nafsu atau akal yang salah sasaran. Cinta seperti inilah nantinya yang akan menjerumuskan pelakunya pada kesengsaraan, cepat atau lambat. Masih ingat kan kalau cinta itu bisa membawa kebahagiaan atau kesengsaraan?
Karena memang seperti itu karakter cinta, yang tidak bisa dilarang sekaligus juga tidak bisa dipaksakan, yang paling mungkin dalam memperlakukan cinta adalah mengikat dan memenejnya dengan baik. Tanpa menejemen yang baik, cinta yang sebenarnya memiliki keindahan bisa membawa kesengsaraan dan kesedihan yang berlipat-lipat. Sering dengar kasus hamil di luar nikah, perkosaan, atau pembunuhan gara-gara cemburu? Atau cerita tentang bunuh diri gara-gara broken heart? Semua itu berawal dari menejemen cinta yang kurang benar. Dan biasanya sad ending, perpisahan permusuhan bahkan killing.
Kalo mengikat cinta? Hanya satu, dengan ikatan agung nan suci yang bernama pernikahan. Hah... nikah? Giman toh Mas, solusinya kok nikah? Nggak kebayang deh! Belon siaap! Masih sekolah! Tenang... tenang... sabar... sabar! Baca dulu... baru ituuu..
Maka jika kamu sedang dilanda cinta, yan harus kamu lakukan adalah berpikir secara jernih dan dewasa apakah cintamu ini murni atau hanya cinta nafsu? Cintamu memang bener-bener untuk persiapan menikah or hanya untuk seneng-seneng saja? Karena banyak juga yang cintanya hanya karena body saja bukan karena kepribadiannya. Atau kamu pacaran saja supaya...
Ingin tahu jawabannya? Lanjuut...
MENGAPA HARUS PACARAN ?
Berikut beberapa alasan kenapa sebagian teman-teman kamu melakukan pacaran. Kamu boleh memilih diantara yang saya tulis.
Pacaran Sebagai Aktualisasi Cinta
Salah satu bentuk penyaluran rasa cinta yang paling banyak dianut adalah dengan berpacaran. Kenapa harus dengan pacaran? Apakah pacaran the only one solusi penyaluran cinta? Apakah kita pacaran serius untuk menuju jenjang pernikahan or just having fun? Atau kamu pacaran biar tidak dibilang anggota PJRI (Partai Jomblo Raya Indonesia)? Apakah pacaran juga mengandung vitamin A???
Banyak teman kamu bilang kalau pacaran sebagai salah satu cara aktualisasi cinta. Maksudnya, mereka berpacaran sebagai cara untuk mengungkapkan anugerah Allah SWT yang bernama cinta.
“Wajar kan jika jatuh cinta? Apanya yang salah? Saya sangat menyukainya dan diapun juga menyayangiku. Asyik kan?”
“Biasa sajalah, toh semua remaja seperti itu! Kalau nggak pacaran alias jomblo, kita-kita dianggap nggak laku donk!”
“Kalau udah sama-sama suka, apalagi bentuknya kalau tidak pacaran?”
Dan masih banyak lagi alasan teman-teman kamu yang memilih pacaran sebagai aktifitas andalan di masa remaja mereka. Dan mereka ‘tidak salah’ beralasan seperti itu. Ketika berbaur dengan banyak teman, ternyata anggota di peer groupnya pacaran semua. Akhirnya dia berkesimpulan bahwa setiap remaja harus berpacaran. Ini semua berawal dari paradigma atau sudut pandang kita yang sejak awal mengartikan bahwa cinta sebagai sesuatu yang harus diwujudkan dengan kasih mesra. Dan itu bernama pacaran.
Maka begitu jatuh cinta, yang biasanya dilakukan adalah PeDeKaTe, tembak, dan jadian. Kalau nanti di tengah jalan ada ketidakcocokan, gampang saja, putus, truz cari partner lagi dengan metode yang sama sambil mengevaluasi ‘kerja’ yang lalu. Oleh karenanya banyak yang merasa stres jika udah tujuh belas tahun ternyata masih jomblo. Kok belum laku-laku ya?
Ada yang ngirim SMS ke Kafe Curhat kalau sampai usia 19 tahun dia masih jomblo, sementara teman-temannya sudah pada ‘laku’ semua. Rasanya dunia sepii sekali. Tiap Sabtu malam dia ngrasa seolah dunia sedang mentertawakannya karena sendiri. “Duh Mas, gimana ini?”
So, pacaran memang salah satu bentuk aktualisasi cinta seseorang yang mulai menginjak usia baligh (ini kata sebagian teman-teman lho!). Ngejomblo? Apa kata dunia!!

                Pacaran Sebagai Proses Saling Mengenal
                Ini juga yang sering menjadi alasan banyak teman kamu yang menjadikan pacaran sebagai salah satu menu wajib mereka.
“Mana mungkin kita-kita yang cakep ini menikah dengan orang yang belum kita kenal? Lagi pula bagaimana kita bisa tahu keluarga, pendidikan, atau behaviornya kalau nggak saling kenal?”
“Nikah tanpa kenal dulu? Gimana malam pertamanya?”
Dan sekali lagi cara untuk mengenal pasangan itu mereka maknai dengan pacaran.
Biasanya, yang sering berpacaran pasti tahu nih, cewek dan cowok yang sedang berpacaran berusahan menggali kepribadian pasangannya. Katanya, dengan sesering mungkin ketemu akan more deep n wide dalam pengenalan terhadap pasangannya. Kalau perlu bisa dirasakan bibir, dada atau anggota tubuh lainnya sebagai bukti cinta. Kalau dirasa sudah klop dan cocok, mereka yang memang deeply in love akan meneruskan ke jenjang pernikahan. Tapi yang  hanya having fun alias senang-senang saja, mereka berpacaran hanya untuk ‘mengenal’ bibir dan kelamin pasangan masing-masing. Setelah mengenal dan tahu rasanya, mereka berpisah untuk ‘kenalan’ dengan bibir dan kelamin lainnya.
Jadi, pacaran, sekali lagi menurut mereka, memang salah satu cara untuk mengenal pasangan masing-masing. Hanya yang perlu dipertanyakan adalah apakah efektif mengenal pasangan dengan pacaran? Apakah ada kepastian kalau pasangan kamu jujur? Sangat mungkin pasangan kamu berbuat dan bicara yang baik-baik saja di depan kamu, sementara di luar kamu tidak tahu apa yang dilakukan sesungguhnya! Saya yakin tidak semua yang berpacaran berani dengan jujur mengatakan apa adanya. Because if mengatakan apa adanya, khawatir ketahuan sifat aslinya yang suka kentutan sehingga dia kecewa dan meninggalkanmu, padahal kamu masih cinta banget. Maka banyak pasangan mengandalkan jurus sedikit berbohong demi menyelamatkan hubunganya. Padahal kebohongan pertama biasanya akan menuntu kebohongan berikutnya.
Pacaran Karena Perintah Orang Tua
Di jaman serba bersaing seperti ini hampir semua orang ingin jadi yang terdepan atau terbaik. Tentu sangat baik kalau persainganya dalam hal kebaikan dan prestasi akademik. Dan hendaknya kamu semua turut serta di dalamnya sebagai pemain-pemain kebaikan. Hanya sayang, tidak setiap kita punya minat untuk menjadi pemain-pemain kebaikan. Dan kenyataanya tidak sedikit diantara kita yang justru mendapat support dari ortu untuk melakukan hal di luar kebaikan. Salah satunya mengejar seseorag yang kita incar. Bukan motivasi untuk menjadi menejer perusahaan tapi malah dikomporin buat mengejar anak menejer perusahaan.
Hare genee masih jomblo? Pasti bingung bukan kepalang. Apa pasal? Ternyata ortu juga gelisah karena anak yang teramat sangat disayanginya sampai usia 17 tahun belum punya gebetan. Padahal kalau sudah sweet seventeen sebagian dari kamu sudah dapat ijin pacaran dari ortu.
“Gimana toh Nak, kok belum laku juga? Kan Papa sudah modalin kamu banyak uang?”
“Kok di rumah saja Nak? Apa nggak ada yang kamu apelin? Tuh, mobil Papa pakai saja!”
Karena motivasi dan provokasi dari ortu seperti itu, tentu kita sungkan untuk tak punya pacar. Dengan alasan seperti itulah banyak teman kamu yang berpacaran memakai slogan ‘membantu orang tua’. Kalau kamu?
bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar